Kabar Irwan ( Opini )
Lebaran Tanpa Kepastian: Ketika Perangkat dan Kepala Desa Menunggu Haknya Sendiri”
Empat hari menjelang Lebaran, suasana desa seharusnya dipenuhi harapan. Jalan kampung mulai ramai, masjid bersiap menyambut takbir, dan keluarga menanti kebersamaan. Namun bagi banyak perangkat desa dan kepala desa, di Kabupaten Tegal, yang datang justru kegelisahan.
THR tak kunjung jelas, Siltap yang menjadi sandaran hidup masih tertahan dalam rantai birokrasi.
Ironisnya, merekalah wajah pertama negara di tingkat paling bawah. Ketika warga membutuhkan surat, bantuan sosial, administrasi kependudukan, hingga penyelesaian konflik sosial — perangkat desa dan kepala desa selalu hadir tanpa jeda.
Negara hadir melalui mereka. Namun siapa yang hadir ketika hak mereka sendiri tertunda?
Di ruang kebijakan, keterlambatan mungkin hanya angka administrasi. Tetapi di rumah perangkat desa, itu berarti pertanyaan anak tentang baju Lebaran. Itu berarti kepala desa harus tetap tersenyum di depan warganya, meski di dalam hati memikirkan kebutuhan keluarganya sendiri.
Kita sering berbicara tentang pelayanan publik, tetapi lupa bahwa pelayanan membutuhkan kesejahteraan. Loyalitas tidak bisa terus diuji dengan ketidakpastian.
Lebaran seharusnya menjadi momentum kebahagiaan bersama, bukan pengingat bahwa mereka yang paling dekat dengan rakyat justru paling lama menunggu haknya.
Jika desa adalah fondasi negara, maka menjaga kesejahteraan perangkat dan kepala desa bukan sekadar kewajiban administratif — melainkan penghormatan terhadap kerja sunyi yang menjaga republik tetap hidup hingga ke pelosok.
Dan di tengah ketidakpastian itu, mereka tetap bekerja, Tetap melayani, Tetap menjadi negara bagi rakyatnya.
Hormat saya buat teman teman Kepala Desa dan Perangkat Desa. (***)

Posting Komentar
0Komentar