Setiap kali banjir melanda, satu kalimat yang hampir selalu muncul adalah: “Ini karena curah hujan yang tinggi.” Pernyataan tersebut terdengar logis, namun sekaligus menyederhanakan persoalan.
Hujan deras memang faktor pemicu, tetapi menjadikannya sebagai satu-satunya penyebab adalah cara paling mudah untuk menghindari evaluasi yang lebih mendasar.
Secara ilmiah, hujan adalah fenomena alam yang siklusnya bisa diprediksi, terlebih di negara tropis seperti Indonesia. Artinya, curah hujan tinggi bukan peristiwa yang sepenuhnya tak terduga. Yang seharusnya menjadi perhatian adalah: apakah tata ruang, sistem drainase, dan kebijakan pembangunan kita sudah dirancang untuk mengantisipasi pola tersebut?
Banjir kerap kali merupakan akumulasi dari berbagai persoalan klasik: alih fungsi lahan tanpa kendali, berkurangnya daerah resapan, pembangunan di bantaran sungai, drainase yang tidak terawat, hingga pendangkalan sungai akibat sedimentasi dan sampah.
Ketika ruang terbuka hijau menyusut dan beton menggantikan tanah yang semestinya menyerap air, maka setiap hujan deras berubah menjadi ancaman.
Ironisnya, evaluasi sering berhenti pada faktor cuaca. Jarang terdengar pernyataan tegas tentang lemahnya pengawasan tata ruang atau kurangnya komitmen terhadap pembangunan infrastruktur pengendali banjir.
Normalisasi sungai, pembangunan embung, sumur resapan, hingga sistem peringatan dini kerap kalah prioritas dibanding proyek-proyek yang lebih “terlihat”.
Narasi “curah hujan tinggi” sebagai kambing hitam juga berpotensi membentuk pola pikir pasrah di tengah masyarakat. Seolah-olah banjir adalah takdir tahunan yang tidak bisa dicegah, hanya bisa disesali. Padahal, banyak kota di dunia dengan curah hujan tinggi mampu meminimalkan risiko banjir melalui perencanaan matang dan tata kelola yang konsisten.
Sudah saatnya perspektif ini diubah. Banjir bukan semata-mata soal langit yang menurunkan air, tetapi juga soal bumi yang kehilangan daya tampungnya. Ia berbicara tentang kebijakan, pengawasan, keberpihakan pada lingkungan, dan keberanian mengambil langkah jangka panjang.
Jika setiap musim hujan kita kembali menyalahkan cuaca tanpa evaluasi menyeluruh, maka yang sesungguhnya terjadi bukan sekadar banjir air—melainkan banjir pembenaran. Dan di tengah arus itu, masyarakatlah yang terus menjadi korban. (***)

Posting Komentar
0Komentar