Kabar Irwan ( Opini )
Suara Sunyi dari Akar Rumput, Kuneng-kuneng kawula kae lara, ngenteni si kodok langking.
Ungkapan Jawa ini terasa relevan menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Rakyat kecil berada dalam posisi lelah dan menunggu—menanti perubahan yang dijanjikan, namun kerap hadir dalam bentuk yang tak sepadan dengan harapan.
Biaya hidup meningkat, lapangan kerja menyempit, sementara wacana besar pembangunan terus bergulir tanpa selalu menyentuh kebutuhan paling dasar.
Pikiran Bangsa yang Terbelah
Ndog siji kepikiran, ndog loro kecamboran.
Ketika satu persoalan belum selesai, persoalan lain justru datang bertumpuk. Kebijakan publik sering kali memunculkan dilema baru: antara pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial, antara stabilitas politik dan suara rakyat.
Alih-alih memberi kepastian, kondisi ini justru membuat masyarakat terjebak dalam kecemasan berkepanjangan. Hiruk-Pikuk Kebijakan Tanpa Arah Jelas
Dayak-dayak tawon goni—ramai, gaduh, tapi buntu.
Begitulah wajah diskursus publik hari ini. Media sosial, ruang politik, hingga forum resmi dipenuhi perdebatan, namun solusi konkret kerap absen. Rakyat dijejali angka-angka makro, sementara realitas di pasar tradisional, desa, dan kawasan pinggiran kota berbicara sebaliknya: daya beli melemah dan ketidakpastian terus menghantui.
Nilai Lama yang Mulai Terlupakan
Di tengah kebisingan itu, bangsa ini sesungguhnya memiliki pegangan: nilai kesederhanaan, keadilan, dan keberpihakan pada yang lemah—sabuk pendok kayu loka. Sayangnya, nilai tersebut kerap kalah oleh kepentingan jangka pendek. Ketika kebijakan kehilangan nurani, rakyatlah yang pertama kali merasakan dampaknya.
Gelap yang Menguji Kesadaran Bangsa
Ada masa ketika kondisi terasa mentiyung neblem—gelap dan membingungkan. Namun sejarah Indonesia membuktikan, dari situasi paling sulit sekalipun, selalu lahir kesadaran kolektif. Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: apakah pengambil kebijakan masih mendengar denyut nadi rakyat, atau justru semakin jauh dari realitas kehidupan sehari-hari?
Menunggu Kesadaran yang Mengalir
Harapan itu belum sepenuhnya padam. Masih ada ruang untuk perubahan, selama negara kembali menempatkan rakyat sebagai pusat kebijakan. Ketika kesadaran itu tumbuh, perlahan ia akan lir gumalir, byar—mengalir dan menyala. Indonesia tidak kekurangan potensi, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berpihak dan ketulusan untuk memperbaiki ( ***)


Posting Komentar
0Komentar