Kabar Irwan
Kegagalan sebuah program desa selalu menimbulkan pertanyaan, tetapi persoalannya tidak sesederhana menuding satu pihak. Di antara berbagai unsur yang terlibat—pemerintah desa, masyarakat, kecamatan, hingga pendamping desa—sering kali terdapat celah koordinasi, keterbatasan kapasitas, dan tantangan teknis yang tidak terlihat dari luar. Karena itu, alih-alih mencari kambing hitam, pertanyaan yang lebih relevan adalah: apakah seluruh sistem pendampingan dan tata kelola desa berjalan sebagaimana mestinya?
1. Mandat Besar, Tantangan Lapangan Sama Besarnya
Pendamping
desa memang memegang mandat strategis dari Kemendes: membantu perencanaan,
pengawasan, hingga evaluasi. Namun di lapangan, mereka sering berhadapan dengan
kondisi objektif yang tidak ringan:
- jumlah desa binaan yang banyak,
- cakupan wilayah yang luas,
- persoalan teknis yang
memerlukan tenaga ahli lintas bidang,
- dinamika internal desa yang
kompleks.
Dalam
kondisi seperti ini, pendamping kerap fokus pada prioritas yang paling mendesak
sehingga beberapa program tidak terawasi seteliti yang diharapkan.
Baca Juga : https://kabarirwan.blogspot.com/2025/11/warga-tanam-pohon-pisang-di-jalan-rusak.html
2. Perencanaan Desa: Forum Formal Tidak Selalu
Menjamin Substansi
Musdes dan
Musrenbangdes adalah ruang ideal untuk memastikan program tepat sasaran. Namun
forum ini kerap berjalan cepat karena berbagai tekanan waktu dan kultur
birokrasi di desa.
Peran
pendamping tetap penting, tetapi keberhasilan perencanaan sangat bergantung
pada:
- kesiapan perangkat desa,
- kehadiran tokoh masyarakat,
- data yang tersedia,
- kemampuan desa membaca peluang
dan risiko.
Dengan
begitu banyak variabel, kegagalan program tidak bisa hanya dikaitkan dengan
satu elemen pengawalan saja.
3. Pelaksanaan Program: Kompleksitas di Balik Proses
Teknis
Ketika
pelaksanaan program tidak berjalan mulus, masyarakat sering bertanya:
"Pendampingnya ke mana?"
Namun
faktanya, pelaksanaan di lapangan sangat dipengaruhi oleh:
- dinamika anggaran,
- kondisi lokasi,
- kemampuan teknis tim pelaksana,
- perubahan harga,
- dan kesiapan administrasi desa.
Pendamping
mungkin sudah memberikan arahan dan masukan, tetapi keputusan eksekusi tetap
berada di tangan pemerintah desa dan tim pelaksana. Di titik ini, peran
pendamping lebih bersifat pendukung dan mitigatif, bukan pengambil keputusan.
4. Pengawasan Preventif: Tidak Semua Hal Bisa
Dideteksi dari Awal
Sistem
pendampingan di desa sebenarnya dirancang sebagai early warning system.
Namun efektivitasnya sangat bergantung pada transparansi internal desa. Ketika
laporan tidak lengkap, data tidak diperbarui, atau progres tidak disampaikan
secara rutin, pendamping berada dalam posisi terbatas.
Artinya,
kegagalan mendeteksi masalah bukan semata kelalaian, tetapi bisa juga
disebabkan oleh:
- minimnya data yang tersedia,
- kurangnya pelaporan dari desa,
- atau perubahan kondisi teknis
yang terjadi mendadak.
5. Dokumentasi dan Laporan: Tanggung Jawab Bersama
Laporan
pendamping penting sebagai catatan kerja, tetapi ia bukan satu-satunya dokumen
yang menentukan keberhasilan program. Evaluasi yang ideal memerlukan:
- laporan dari desa,
- dokumen realisasi anggaran,
- laporan progres fisik,
- serta masukan masyarakat.
Ketika
program gagal, sering kali terdapat mata rantai informasi yang terputus—bukan
hanya dari sisi pendamping, tetapi dari seluruh aktor yang terlibat.
6. Saat Muncul Konflik, Kolaborasi Menjadi Kunci
Dalam
situasi krisis, pendamping memiliki peran mediasi. Namun mediasi hanya efektif
jika seluruh pihak membuka ruang dialog:
- desa terbuka terhadap kritik,
- masyarakat memberikan informasi
objektif,
- kecamatan siap mendukung
penyelesaian,
- pendamping memiliki akses data
dan ruang bicara.
Jika salah
satu elemen tertutup atau defensif, penyelesaian konflik menjadi sulit, dan
kesan “pendamping menghilang” dapat muncul meski faktanya lebih kompleks.
7. Evaluasi Program: Menghindari Siklus Kegagalan yang
Sama
Evaluasi
bukan tugas satu pihak, tetapi proses kolektif:
- desa menilai eksekusi,
- pendamping memberikan masukan
metodologis,
- kecamatan mengawasi regulatif,
- masyarakat memberi umpan balik.
Kegagalan
program di masa lalu seharusnya menjadi dasar koreksi, bukan saling
menyalahkan. Kolaborasi yang kuat menjadi syarat utama agar kesalahan tidak
terulang.
Kesimpulan: Kegagalan Program Desa adalah Cermin
Sistem, Bukan Cermin Individu
Dari
berbagai kasus di lapangan, terlihat bahwa kegagalan program desa lebih sering
disebabkan oleh:
- perencanaan yang belum matang,
- koordinasi yang lemah,
- komunikasi tidak terbuka,
- data yang minim,
- serta keterbatasan kapasitas
seluruh pihak.
Baca Juga : https://kabarirwan.blogspot.com/2025/11/analisis-anggaran-pendidikan-kabupaten.html
Pendamping
desa tetap memegang peran penting, tetapi mereka bekerja dalam ekosistem yang
penuh keterbatasan. Karena itu, memperbaiki tata kelola desa membutuhkan
langkah kolektif—bukan sekadar mencari pihak yang paling mudah disalahkan.
Jika sistem
diperkuat, kolaborasi diperbaiki, dan komunikasi dibuka, maka pendamping desa
dapat berfungsi optimal sebagai mitra penguatan desa, bukan sekadar penonton
atau kambing hitam ketika program tidak berjalan. ( *** )


Posting Komentar
0Komentar