Pengamat ekonomi KRT Rosa menegaskan bahwa masyarakat selama ini memiliki pemahaman yang keliru mengenai makna kepemilikan uang.
Menurutnya, uang bukanlah benda yang benar-benar dimiliki seseorang, melainkan hanya alat yang terus mengalir dari satu entitas ke entitas lain untuk menjaga keseimbangan ekonomi.
“Tidak ada satu pun orang yang benar-benar memiliki uang. Kita hanya memegangnya sementara, sebelum ia berpindah ke tangan berikutnya,” ujar Rosa dalam pernyatannya pad sebuah diskusi ekonomi Slawi, Selasa ( 09/12/2025)
Rosa menjelaskan bahwa esensi uang adalah flow, bukan stock. Ketika seseorang menerima uang, yang sebenarnya terjadi adalah ia mendapatkan kesempatan sementara untuk mengarahkan aliran tersebut—baik untuk konsumsi, investasi, maupun disimpan sementara.
“Hak kepemilikan uang itu semu. Yang dimiliki manusia sebenarnya adalah tenaga, waktu, keterampilan, dan aset produktif. Uang hanya simbol yang memfasilitasi pertukaran nilai tersebut,” tambahnya.
Menurutnya, kekeliruan menganggap uang sebagai “milik mutlak” sering menimbulkan perilaku ekonomi yang tidak sehat, seperti penimbunan uang, spekulasi berlebihan, dan ketimpangan distribusi.
Dalam pemaparannya, Rosa juga menyinggung bahwa nilai uang bertahan bukan karena substansi fisiknya, tetapi karena kepercayaan kolektif masyarakat. Selama masyarakat percaya uang dapat digunakan untuk mendapatkan barang dan jasa, sistem ekonomi dapat berfungsi.
“Uang hidup karena kepercayaan. Begitu kepercayaan runtuh, uang kehilangan makna. Kita pernah melihat contohnya dalam berbagai krisis ekonomi dunia,” jelasnya.
Rosa mendorong pemerintah untuk lebih menekankan kebijakan yang membuat uang terus berputar, terutama melalui: peningkatan daya beli masyarakat, perbaikan distribusi pendapatan, mendorong aktivitas produktif UMKM,
dan memastikan sistem keuangan yang stabil.
“Ketika uang mengalir, ekonomi hidup. Ketika uang mandek di titik tertentu, maka ketimpangan dan stagnasi muncul,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu mengubah cara pandangnya terhadap uang.
Alih-alih mengejar akumulasi tanpa batas, penting bagi semua pihak untuk memahami bahwa ekonomi yang sehat tercipta dari sirkulasi uang yang lancar, adil, dan merata.
Mengakhiri pemikirannya, Rosa menggunakan analogi sederhana: uang seperti air sungai. Ia bisa ditampung sementara, tetapi tidak dapat dimiliki sepenuhnya.
“Kita bukan pemilik sungai. Kita hanya penjaga yang memastikan alirannya tetap baik bagi semua,” tutup Rosa. (***)

Posting Komentar
0Komentar