Fenomena diam saat kebagian, lantang saat kehilangan bukan lagi bisik-bisik di belakang layar dunia pergerakan. Ia telah menjadi ironi terbuka yang kerap muncul dalam dinamika gerakan aktivis dan organisasi sosial.
Ketika akses, ruang, atau “jatah” tersedia, kritik mendadak meredup. Namun saat pintu tertutup, suara-suara itu kembali menggema dengan nada paling keras.
Ironi ini penting dibaca secara jernih, bukan untuk menafikan kritik, tetapi untuk menguji niat dan konsistensi idealisme.
Dalam gerakan sosial, kritik seharusnya lahir dari kepedulian terhadap kepentingan publik, bukan dari frustrasi karena kepentingan pribadi tak terakomodasi. Ketika motivasi bergeser, maka kritik—betapapun lantangnya—kehilangan bobot moral.
Dunia pergerakan aktivis sejatinya dibangun di atas nilai keberpihakan dan konsistensi sikap. Idealisme bukan alat tawar-menawar, melainkan kompas etika.
Ketika keberanian bersuara sangat ditentukan oleh ada atau tidaknya keuntungan, maka yang terjadi bukan lagi gerakan, melainkan transaksi kepentingan yang dibungkus retorika perjuangan.
Kondisi ini juga diperparah oleh budaya yang terlalu memuja kebisingan. Seolah-olah yang paling keras adalah yang paling benar.
Padahal sejarah perubahan sosial menunjukkan sebaliknya: perubahan lahir dari kerja konsisten, argumentasi berbasis data, dan keteguhan sikap, bahkan ketika sorotan publik menghilang. Gerakan yang sehat tidak anti kritik, tetapi juga tidak menjadikan kritik sebagai alat tekanan selektif.
Redaksi memandang, tantangan terbesar dunia pergerakan hari ini bukan sekadar menghadapi kekuasaan, melainkan melakukan otokritik internal. Membersihkan praktik oportunisme yang menyamar sebagai idealisme. Mengembalikan kritik pada substansinya: kebijakan, dampak sosial, keadilan, dan kepentingan publik yang lebih luas.
Ketika publik mulai sulit membedakan antara aktivisme dan ambisi, kepercayaan menjadi taruhan. Gerakan sosial tidak boleh kehilangan legitimasi hanya karena sebagian aktornya gagal menjaga jarak dari kepentingan sesaat.
Dititik ini, sikap paling bertanggung jawab adalah tetap kritis tanpa harus kebagian apa pun, dan tetap konsisten meski tak mendapat panggung.
Pada akhirnya, dunia pergerakan aktivis akan selalu diuji oleh situasi dan godaan. Diam atau bersuara bukan persoalan utama. Yang jauh lebih penting adalah alasan di balik sikap itu. Sebab gerakan yang lahir dari nurani akan tetap berdiri, bahkan ketika semua kepentingan ditarik pergi. (***)

Posting Komentar
0Komentar